The Truth, Lies, and Live
Bertahun-tahun, kita dimanja dengan kemudahan memperoleh software atau program bajakan, ingin program Windows tinggal beli dengan harga murah di toko software terdekat. Tanpa merasa berdosa, kita mengeluarkan uang Rp. 20-50ribu untuk membeli software tersebut.
Dari sisi pengguna, kemudahan memperoleh software bajakan ini membuat ia tidak pernah mendalami sebuah software dengan sungguh-sungguh, he..he.. mungkin termasuk saya. Gampangnya memperoleh software membuat kita menclak-menclok, belum dalam mempelajari sesuatu sudah mempelajari yang lain.
2 tahun lalu saya membeli sebuah software, wah… disinilah ternyata bedanya, karena merasa mengeluarkan uang yang besar untuk memperoleh software ini, semua fasilitas software sampai dikuliti, tiap saat mencek updating software, sampai terlibat di forum pengguna.
Pernah saya berdiskusi dengan seorang rekan, saya bertanya: “Apakah software yang kamu gunakan licence?”. Dia menjawab “Ya, tentu saja”. Kemudian dia menjelaskan, mengapa software yang digunakan itu harus diusahakan berlisensi alias tidak menggunakan bajakan. Salah satunya dari sudut pandang Agama. Bila ada sebuah barang yang “haram” dipergunakan untuk mencari nafkah / bekerja, tentu hasilnya tidak 100% berkah apalagi kalau nantinya uang hasil penggunaan barang bajakan itu digunakan untuk menafkahi anak istri. Bener kan?
Kini satu per satu software yang terinstall di komputer dan sering saya gunakan “diputihkan” satu persatu, walau memang kadang harga software lebih mahal dari komputer yang kita gunakan. Tapi memang pendapat teman saya itu benar sekali. Kini dengan menyisihkan sedikit uang tiap bulan dari penghasilan yang saya dapatkan, hampir semua software yang dipergunakan telah licence atau menggunakan yang free. Tinggal satu software yang belum, karena harganya sangat mahal bagi saya, mudah-mudahan uangnya cepat terkumpul supaya bisa membeli software yang saya perlukan ini. Amiiin.
One Response for "Antara Software Bajakan dan Original"
tapi yang jual bajakan, replika, tetep aja subur seperti ngga tersentuh. apalagi level mahasiswa, kalau ada yang lebih murah, kenapa beli yang mahal?
Leave a reply